Akal Pengrasa.
Kemudi blog ini harapan gua selalu track in line. bagai ada jalur auto gps. sama kayak namanya. Cup of Mind. bicara soal pikiran. tau apa yang lucu? kosong. lebih nyaring dari tong jika digentar.
Banyak pertanyaan terbelakang mengenai konsep keseimbangan. pengutaraan lewat kata berbaris ataupun nada yang serasa menjulang lalu terjun menemui kedangkalan. atau mungkin juga yang masih terbelenggu enggan menjadi salah satu hiruk pikuk kegilaan fana. tau yang lebih lucu lagi? ditarik persamaan dengan ying and yang. sebuah mitologi kuno. atau lebih tepatnya merujuk kesuatu keyakinan. yang gua rasa ada benernya.
Berhenti. berhenti mengebiri rasa. mungkin dunia ini masih terselip orang-orang seperti Elliot. wujud lobotomi. hampir mirip dengan robot. karna disebut seonggok sampahpun masih kurang memanusiakan. penghormatan, kejayaan, kemenangan, bahkan kebahagiaan tidak melulu datang dari kerasnya akal. namun seperti halnya manusia. penguasaan gender menunggangi pelana. wanita menarik kendali tuas gebuan rasa. pria menarik kendali tuas logisme akal. begitu hakikatnya.
So. sering banget temen-temen gua nanya mengenai mana yang harus diutamain? akal apa rasa? well gua selalu mencoba memberikan jawaban untuk tidak memberikan dogma justifikasi. melainkan lebih menyarankan untuk mengambil jalan tengah. menanyakan objek apa yang mereka tuju. kiranya mengajukan pertanyaan sederhana. namun justru yang terpenting. pertanyaan mengapa? mengapa mereka perlu melakukan hal tersebut. secara terarah dengan melibatkan dua unsur jawaban dari rasa dan pikiran. karna kebanyakan rasa cenderung mengambil keputusan akibat dari emosi sesaat. sialnya emosi sesaat ini seringkali menimbulkan berbagai konflik dikemudian dan meracau. namun relatif singkat dan mendatangkan hasrat kepuasan. kebahagian. berbeda dengan akal. dia cenderung melibatkan berbagai analisa mengenai hitam putihnya sebuah keputusan. lalu apa yang kurang? otak dipaksa mengambil jalan yang lebih panjang. lebih terjal. tentunya melelahkan. dan kebanyakan bukan sesuatu yang kita nantikan. coba tanyakan sendiri. rememori. reevaluasi.
Ada sebuah kutipan dimana Descartes berpendapat bahwa akal kita terpisah dari gairah-gairah kebinatangan sehingga tugas akal adalah mengendalikannya. tau apa yang aneh? hasrat itu sendiri merupakan bagian yang timbul dari rasa. jadi apa perlu kita menjadi binatang untuk menjadi manusia? karna ketika mengisolasi akal maka manusia hanya sebuah robot yang mampu makan, bernafas dan buang kotoran? (well sepertinya di era industri 4.0 sekarang memang sudah ada)
Lalu apakah dengan membaca sampe di poin ini kalian mencoba meyakinkan diri untuk tidak bertindak bodoh di kemudian hari karna mempertimbangkan jalan tengah tadi? haha. do as much as u can. so u can learn as much as u can. i know i say it too much but. YOLO. you only live once. silahkan bego hari ini. besok perbaiki.
Banyak pertanyaan terbelakang mengenai konsep keseimbangan. pengutaraan lewat kata berbaris ataupun nada yang serasa menjulang lalu terjun menemui kedangkalan. atau mungkin juga yang masih terbelenggu enggan menjadi salah satu hiruk pikuk kegilaan fana. tau yang lebih lucu lagi? ditarik persamaan dengan ying and yang. sebuah mitologi kuno. atau lebih tepatnya merujuk kesuatu keyakinan. yang gua rasa ada benernya.
Berhenti. berhenti mengebiri rasa. mungkin dunia ini masih terselip orang-orang seperti Elliot. wujud lobotomi. hampir mirip dengan robot. karna disebut seonggok sampahpun masih kurang memanusiakan. penghormatan, kejayaan, kemenangan, bahkan kebahagiaan tidak melulu datang dari kerasnya akal. namun seperti halnya manusia. penguasaan gender menunggangi pelana. wanita menarik kendali tuas gebuan rasa. pria menarik kendali tuas logisme akal. begitu hakikatnya.
So. sering banget temen-temen gua nanya mengenai mana yang harus diutamain? akal apa rasa? well gua selalu mencoba memberikan jawaban untuk tidak memberikan dogma justifikasi. melainkan lebih menyarankan untuk mengambil jalan tengah. menanyakan objek apa yang mereka tuju. kiranya mengajukan pertanyaan sederhana. namun justru yang terpenting. pertanyaan mengapa? mengapa mereka perlu melakukan hal tersebut. secara terarah dengan melibatkan dua unsur jawaban dari rasa dan pikiran. karna kebanyakan rasa cenderung mengambil keputusan akibat dari emosi sesaat. sialnya emosi sesaat ini seringkali menimbulkan berbagai konflik dikemudian dan meracau. namun relatif singkat dan mendatangkan hasrat kepuasan. kebahagian. berbeda dengan akal. dia cenderung melibatkan berbagai analisa mengenai hitam putihnya sebuah keputusan. lalu apa yang kurang? otak dipaksa mengambil jalan yang lebih panjang. lebih terjal. tentunya melelahkan. dan kebanyakan bukan sesuatu yang kita nantikan. coba tanyakan sendiri. rememori. reevaluasi.
Ada sebuah kutipan dimana Descartes berpendapat bahwa akal kita terpisah dari gairah-gairah kebinatangan sehingga tugas akal adalah mengendalikannya. tau apa yang aneh? hasrat itu sendiri merupakan bagian yang timbul dari rasa. jadi apa perlu kita menjadi binatang untuk menjadi manusia? karna ketika mengisolasi akal maka manusia hanya sebuah robot yang mampu makan, bernafas dan buang kotoran? (well sepertinya di era industri 4.0 sekarang memang sudah ada)
Lalu apakah dengan membaca sampe di poin ini kalian mencoba meyakinkan diri untuk tidak bertindak bodoh di kemudian hari karna mempertimbangkan jalan tengah tadi? haha. do as much as u can. so u can learn as much as u can. i know i say it too much but. YOLO. you only live once. silahkan bego hari ini. besok perbaiki.


Tidak ada komentar